Kisah ini tentang seorang wanita, sahabat dari ibu kandung saya sendiri.

Suci Lestari (bukan nama asli) adalah seorang mahasiswi di salah satu PTS di Surabaya. Ketika itu dia memiliki seorang kekasih yang juga seorang mahasiswa teknik elektro di PTN yang juga terdapat di kota Surabaya. Mereka berdua berhubungan sangat baik, sampai-sampai mereka memutuskan untuk segera menikah tanpa memikirkan usia dan status mereka yang mesih menjadi seorang mahasiswa.

Di awal-awal tahun pernikahan, mereka terus meneruskan kuliah. Untuk membiayai hidup sang suami mengambil kerja sambilan sebagai teknisi wartel. Karena, kedua orang tua mereka sudah menganggap mereka dewasa dengan pernikahan tersebut. Tetapi pada akhirnya mereka berdua tidak dapat menyelesaikan kuliah karena kondisi Suci yang tengah mengandung dan suaminya yang terlalu asik menikmati pekerjaannya sebagai teknisi sehingga kuliahnya terbengkalai.

Setelah anak mereka lahir barulah cobaan mereka dimulai. Selama ini mereka merasa hidup berkecukupan dengan hanya mengandalkan gaji suami sebagai teknisi wartel. Setelah anak mereka lahir barulah mereka sadar bahwa mereka juga harus memikirkan kebutuhan anak mereka yang selama ini tidak mereka perhitungkan.

Perlahan-lahan kondisi ekonomi keluarga ini mulai menurun. Mereka berjuang keras untuk membiayai kebutuhan keluarga mereka yang semakin lama semakin besar. Suci pun memutuskan untuk membantu suaminya mencari nafkah dengan cara berjualan kerupuk udang yang dipasok dari sebuah home industry di Sumenep, Madura.

Suci tidak pernah menyerah dengan kondisi mereka. Karena kegigihannya Suci pun mendapat konsumen yang lumayan banyak. Setelah mendapatkan konsumen yang banyak Suci merasa keuntungannya dari menjual kerupuk udang itu sedikit. Dia memutuskan untuk membuka usaha home industry sendiri di Surabaya.

Dia langsung berangkat menuju Sumenep untuk belajar cara pembuatan kerupuk udang. Setelah ia mengetahui cara pembuatannya, ia langsung pulang kembali ke Surabaya dan membuka usaha home industry sendiri.

Usaha Suci berhasil. Kerupuk buatannya banyak disukai orang-orang. Keuntungan yang didapatnya pun lebih besar dari sebelumnya, karena kali ini dia membuat semua ini sendiri. Usahanya pun semakin maju, sampai-sampai Suci mampu memperkarjakan 3-4 orang untuk membantu usahanya. Akhirnya Suci, sang suami dan anaknya mampu hidup dengan layak.

Dari kisah ini kita dapat belajar dari sosok seorang Suci Lestari yang tidak pernah menyerah pada keadaan. Dia mampu bangkit dari kondisi terpuruk. Seperti pepatah yang disebutkan oleh Sir Winston Churchill (1874 – 1965) “Success is the ability to go from one failure to another with no loss of enthusiasm”.

Malam itu tanggal 15 Juni 2010 kira-kira jam 23.00, aku baru saja pulang dari rumah seorang teman dengan menggunakan sebuah sepeda motor. Malam itu hujan cukup deras di kota Karawang sementara posisiku yang tepatnya ada di jalan Bayukarta masih cukup jauh tempat kost-ku.

Tepat ditengah jalan, tiba-tiba saja “DUARR” ban motor belakang meletus. Beruntung, aku dapat mengendalikan motorku dan berhenti tepat didepan tukang tambal ban. “Alhamdulillah…untung gue berhenti depan tukang tambal” pikir ku. “Bang, ban bocor nih…kayaknya ban dalem ni motor udah tipis deh, sekalian ganti aja deh!”. “Beres dek!” ucap tukang tambal ban itu. Tak lama “Wah.. ini sih kena paku, dek!” . “ooo..gitu ya…parah nggak bocornya?” . “Lumayanlah, saran saya sih mending diganti dek!” . “ Oke deh..” . Setalah selesai diganti aku pun langsung melanjutkan perjalan.

Kesokan hari nya setalah aku menceritakan pengalamanku tersebut kepada teman-teman di kost-anm aku baru mengetahui bahwa hampir semua teman-ku mengalami kejadian yang sama, dan aku pun mengetahui bahwa tukang tambal ban tersebut sering memasang “ranjau paku” di jalanan agar mendapatkan keuntungan.

Dari pengalaman tersebut, aku mendapat pelajaran bahwa dalam berwirausaha bekerjalah dengan jujur. Jangan mengambil keuntungan dengan cara membuat susah orang lain.

cek posting export-import..

Search